Rabu, 18 Juli 2018

Asal Usul Api Abadi Mrapen

Cerita Asal Usul Api Abadi Mrapen terletak di jalan raya Purwodadi - Semarang Manggarmas, Godong, Grobogan, Jawa Tengah. Api abadi Mrapen merupakan fenomena geologi alam berupa keluarnya gas alam dari dalam tanah yang tersulut api sehingga api tidak pernah padam meskipun turun hujan.

Asal Usul Api Abadi Mrapen
Asal Usul Api Abadi Mrapen

Pada masa pemerintahan kerajaan Demak dan keruntuhan Majapahit sekitar tahun 1525, beberapa penguasa Majapahit yang tidak mau tunduk pada Demak memindahkan pusat kerajaannya ke Sengguruh, Ponorogo dan lereng Gunung Lawu. Raden Patah sebagai raja Demak menata wilayah kerajaan. Demak dijadikan pusat pemerintahan, perdagangan, pendidikan dan penyebaran agama Islam. Ekspedisi pemboyongan dipimpin oleh Sunan Kalijaga. Setelah sampai di Mrapen mereka merasa sangat lelah. Sunan Kalijaga dan pengikutnya beristirahat di Mrapen. Karena tidak terdapat air untuk minum, maka Sunan Kalijaga berdoa agar diberi air untuk minum para pengikutnya. Tongkat Sunan Kalijaga ditancapkan ke tanah, kemudian dicabutnya. Tetapi yang keluar bukan air melainkan api yang tidak dapat padam (Api Abadi). Tempat tersebut kemudian dikenal Mrapen. Tongkat Sunan Kalijaga ditancapkan kembali ke tanah, kemudian dicabutnya lagi, pada akhirnya keluarlah pancuran air yang dapat diminum. Setelah Sunan Kalijaga dan pengikutnya hilang lelahnya mereka melanjutkan perjalanan ke Demak. Ketika sampai di Demak maka barang - barang yang dibawa diteliti. Ternyata sebuah ompak (alis tiang) ketinggalan di Mrapen. Sunan Kalijaga menyatakan ompak itu tidak perlu diambil karena kelak akan memiliki banyak manfaat. Saat ini batu ompak tersebut dikenal dengan nama Watu Bobot.

Suatu ketika Sunan Kalijaga mengajak Jaka Supo pergi ke hutan mencari kayu jati yang cocok untuk dibuat “Saka Guru“ Masjid Agung Demak. Pada waktu itu, Jaka Supa menjabat sebagai jajar Mpu abdi Majapahit, tetapi telah belajar agama Islam pada Sunan Kalijaga. Selama Sunan Kalijaga mengembara di hutan mencari kayu tersebut, dia berjumpa dengan Dewi Rasa Wulan yang sedang “Tapa Ngidang“. Dewi Rasa Wulan adalah adik Sunan Kalijaga yang lari dari Kadipaten Tuban, karena ditawari untuk menikah tidak mau. Oleh Sunan Kalijaga, Dewi Rasa Wulan diajak ke Tuban. Di Tuban dia dikawinkan dengan Jaka Supa. Pada saat Jaka Supa yang telah bernama Mpu Supa sedang membuat keris, Sunan Kalijaga datang untuk minta kepada Jaka Supa membuat sebuah keris yang baik. Sunan Kalijaga memberikan bahan berupa besi sebesar biji asam. Jaka Supa heran, dapatkah besi sebesar biji asam dapat dibuat keris? tetapi setelah Jaka Supa memegang besi tersebut ternyata sangat berat. Sunan Kalijaga memerintahkan supaya keris dibuat di Mrapen. Maka Mpu Supa pergi ke Mrapen membuat keris tersebut. Untuk pembakarannya digunakan api abadi. Watu Bobot digunakan sebagai landasannya. Sedang air sendang juga digunakan sebagai penyepuhnya. Aneh, air yang tadinya jernih setelah dipakai untuk menyepuh keris berubah warna menjadi kuning kecoklat - coklatan dan warna tersebut bertahan sampai sekarang. Semoga tulisan dari Adhitya Nugraha Novianta menjadi ilmu yang bermanfaat. Baca Juga: Dasa Pitutur Sunan Kalijaga
logoblog
Jumat, 04 Mei 2018

Dasa Pitutur Sunan Kalijaga

Dasa Pitutur Sunan Kalijaga, 10 (sepuluh) filosofi jawa yang diajarkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, 10 (Sepuluh) nasehat luhur Kanjeng Sunan Kalijaga. Berikut adalah dasa pitutur kanjeng sunan kalijaga beserta arti terjemahan kedalam bahasa Indonesia.

Dasa Pitutur Sunan Kalijaga
Dasa Pitutur Sunan Kalijaga
1. Urip Iku Urup.
Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita.
2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkoro.
Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah, dan tamak.
3. Suro Diro Joyo Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti.
Segala sifat keras hati, angkara murka, hanya dapat dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati, dan sabar.
4. Ngluruk tanpo Bolo, Menang tanpo Ngasorake, Sekti tanpo Aji-Aji, Sugih tanpo Bondho.
Berjuang tanpa perlu membawa massa, menang tanpa merendahkan, Sakti tanpa aji ajian, Kaya tanpa mengedepankan harta benda.
5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan.
Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri, Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu.
6. Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman.
Jangan mudah terheran-heran, Jangan mudah menyesal, Jangan mudah terkejut-kejut, Jangan manja.
7. Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman.
Janganlah terobsesi atau berfokus pada kedudukan, kebendaan duniawi, dan kepuasan.
8. Ojo Kuminter Mundak Keblinger, Ojo Cidro Mundak Ciloko.
Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.
9. Ojo Milik Barang kang Melok, Ojo Mangro Mundak Kendho.
Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, dan indah, Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat.
10. Ojo Adigang, Adigung, Adiguno.
Jangan merasa paling berkuasa, jangan merasa paling besar, jangan merasa paling sakti.

Itulah sepuluh nasehat salah satu Wali Songo yaitu Sunan Kalijaga, semoga apa yang telah diajarkan oleh Sunan Kalijaga menjadi ilmu yang bermanfaat.
logoblog
1 / 2
Jangan Lelah
2 / 2
Terimakasih
Up