Jumat, 04 Mei 2018

Dasa Pitutur Sunan Kalijaga

Dasa Pitutur Sunan Kalijaga, 10 (sepuluh) filosofi jawa yang diajarkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, 10 (Sepuluh) nasehat luhur Kanjeng Sunan Kalijaga. Berikut adalah dasa pitutur kanjeng sunan kalijaga beserta arti terjemahan kedalam bahasa Indonesia.

Dasa Pitutur Sunan Kalijaga
Dasa Pitutur Sunan Kalijaga
1. Urip Iku Urup.
Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita.
2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkoro.
Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah, dan tamak.
3. Suro Diro Joyo Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti.
Segala sifat keras hati, angkara murka, hanya dapat dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati, dan sabar.
4. Ngluruk tanpo Bolo, Menang tanpo Ngasorake, Sekti tanpo Aji-Aji, Sugih tanpo Bondho.
Berjuang tanpa perlu membawa massa, menang tanpa merendahkan, Sakti tanpa aji ajian, Kaya tanpa mengedepankan harta benda.
5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan.
Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri, Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu.
6. Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman.
Jangan mudah terheran-heran, Jangan mudah menyesal, Jangan mudah terkejut-kejut, Jangan manja.
7. Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman.
Janganlah terobsesi atau berfokus pada kedudukan, kebendaan duniawi, dan kepuasan.
8. Ojo Kuminter Mundak Keblinger, Ojo Cidro Mundak Ciloko.
Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.
9. Ojo Milik Barang kang Melok, Ojo Mangro Mundak Kendho.
Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, dan indah, Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat.
10. Ojo Adigang, Adigung, Adiguno.
Jangan merasa paling berkuasa, jangan merasa paling besar, jangan merasa paling sakti.

Itulah sepuluh nasehat salah satu Wali Songo yaitu Sunan Kalijaga, semoga apa yang telah diajarkan oleh Sunan Kalijaga menjadi ilmu yang bermanfaat.
logoblog
Kamis, 01 Maret 2018

Serangan Umum 1 Maret 1949

Sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Agresi Militer Belanda II, Belanda menduduki Yogyakarta, Ibukota Republik Indonesia. Setelah Kota Yogyakarta diduduki, Belanda juga berusaha untuk menduduki Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul. Situasi Yogyakarta sebagai Ibukota Republik Indonesia saat itu tidak kondusif dan ditambah dengan propaganda Belanda di dunia internasional bahwa tentara Indonesia sudah tidak ada.

Menyikapi hal tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengirimkan surat kepada Jenderal Soedirman untuk meminta izin diadakannya serangan. Jenderal Sudirman menyetujui dan meminta Sri Sultan HB X untuk berkoordinasi dengan Letkol Soeharto yang pada saat itu menjabat sebagai Komandan Brigade 10/Wehkreise III. Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengadakan pertemuan empat mata dengan Letkol Soeharto di nDalem Prabuningratan. Pertemuan tersebut menghasilkan keputusan untuk mengadakan Serangan Umum pada tanggal 1 Maret 1949.

Serangan Umum 1 Maret 1949
Serangan Umum 1 Maret 1949
Pada tanggal 1 Maret 1949 pada pukul 06.00 pagi, bunyi sirene penanda berakhirnya jam malam juga digunakan sebagai tanda serangan umum dimulai. sekitar 2.500 orang pasukan gerilya di bawah pimpinan Letkol Soeharto melancarkan serangan besar-besaran di pusat Kota Yogyakarta. Pasukan gerilya mengepung Kota Yogyakarta dari berbagai arah. Mayor Sardjono memimpin penyerangan dari arah selatan, sedangkan dari arah barat, serangan dipimpin oleh Letkol Soehoed. Sementara dari arah utara, pasukan gerilya dipimpin oleh Mayor Soekasno. Belanda merasa terkejut dan kurang persiapan dalam menghadapi serangan tersebut sehingga dalam waktu singkat Belanda berhasil didesak mundur. Pos-pos militer Belanda ditinggalkan. Beberapa kendaraan lapis baja berhasil direbut. Tepat pada pukul 12.00 siang, Letkol Soeharto memerintahkan pasukannya untuk mengosongkan kota dan kembali menuju markas gerilya. Selama kurang lebih 6 jam Pasukan gerilya berhasil menguasai Yogyakarta.

Berita keberhasilan Serangan Umum 1 Maret 1949 segera disebarkan melalui radio PC1 di Playen, Gunungkidul kemudian diteruskan ke pemancar di Bukit Tinggi, lalu diteruskan oleh pemancar militer di Myanmar ke New Delhi (India). Berita keberhasilan Serangan Umum 1 Maret 1949 pada akhirnya diterima oleh PBB pada saat melakukan sidang di Washington D.C, Amerika Serikat.

Serangan Umum 1 Maret 1949 membuka mata dunia Internasional bahwa TNI masih ada dan menjadi bukti keberadaan serta memperkuat posisi tawar Indonesia dalam perundingan di Dewan Keamanan PBB. Keberhasilan Serangan Umum 1 Maret 1949 juga mempertinggi moril dan semangat juang pasukan gerilya TNI di daerah lain. Baca juga: Sejarah Hari Pahlawan
logoblog
Sabtu, 24 Februari 2018

Kasus Marbury vs Madison 1803

Kasus Marbury vs Madison 1803, kronologi singkat mengapa perkara William Marbury dan James Madison bertentangan dengan Artikel III Seksi 2 Konstitusi Amerika Serikat.

Kasus William Marbury (Marbury) versus James Madison (Madison) menjadi awal praktek constitutional review atau judicial review di Mahkamah Agung Amerika Serikat. Presiden Quincy Adams kalah dalam pemilihan melawan Thomas Jefferson. Memasuki masa peralihan jabatan presiden tersebut, Quincy Adams membuat berbagai keputusan penting, salah satu keputusan penting tersebut adalah mengangkat John Marshall sebagai hakim agung. Sebelum diangkat sebagai hakim agung, John Marshall adalah Secretary of State.
Kasus Marbury vs Madison 1803
Kasus Marbury vs Madison 1803

William Marbury salah satu pejabat yang diangkat pada masa peralihan sebagai hakim. Ketika masa peralihan terjadi, salinan surat pengangkatan Marbury belum diserahterimakan. James Madison yang baru menjabat sebagai Secretary of State di bawah pemerintahan Thomas Jefferson menahan salinan surat pengangkatan Marbury. Tindakan Madison menahan salinan surat pengangkatan pejabat tersebut yang kemudian diperkarakan oleh Marbury ke Mahkamah Agung. Marbury dan pejabat yang lain memberikan kuasa kepada mantan Jaksa Agung Federal yang bernama Charles Lee.

Marbury meminta kepada Mahkamah Agung untuk memerintahkan pemerintah melaksanakan writ of mandamus, dengan cara menyerahkan surat-surat pengangkatan yang sudah ditandatangani oleh Presiden Quincy Adams. Pemerintahan Presiden Thomas Jefferson menolak. Kongres yang mayoritas kaum Republik sebagai pendukung Pemerintahan Presiden Thomas Jefferson, juga mengesahkan Undang-Undang yang menunda semua persidangan Mahkamah Agung selama satu tahun.

Mahkamah Agung akhirnya menyidangkan perkara kasus Marbury vs Madison ini. Putusan Mahkamah Agung yang ditulis oleh John Marshall menyatakan bahwa pemerintahan Quincy Adams sudah memenuhi semua persyaratan yuridis sebelum mengangkat Marbury dan pejabat yang lain serta berhak atas surat pengangkatan menurut hukum.

Mahkamah Agung menyatakan bahwa tidak punya wewenang memaksa pemerintahan Presiden Thomas Jefferson untuk menyerahkan surat-surat yang diminta oleh Marbury. Permintaan Marbury agar pemerintah mengeluarkan writ of mandamus sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang Peradilan Amerika Serikat (Judiciary Act) 1789 tidak dapat dibenarkan karena bertentangan dengan Artikel III Seksi 2 Konstitusi Amerika Serikat. Jadi, dalil yang dipakai Mahkamah Agung untuk mengadili dan memutus perkara Kasus Marbury vs Madison 24 Februari tahun 1803 adalah konstitusi, bukan UU Peradilan 1789.
logoblog
1 / 2
Jangan Lelah
2 / 2
Terimakasih
Up